Saya adalah seorang istri yang baru beberapa bulan belajar internet sebelum kasus Prita Mulyasari mencuat ke publik. Ketertarikan saya terhadap internet dipicu oleh seringnya suami berselancar di dunia maya ini, suami sering meng-update banyak hal dari sini, mulai dari mencarikan saya resep makanan, fashion catalog, karya-karya sastra, ilmu keagamaan, maupun informasi lainnya yang sangat bermanfaat bagi kami. I like it! sampai akhirnya saya memutuskan untuk belajar internet agar bisa berselancar sendiri di dunia ini dan suamipun dengan senang hati membimbing dan mengajari saya menggunakan fasilitas ini. Akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai bisa menggunakan internet sendiri.
Tapi sayang, trauma tiba-tiba melanda saya sejak kasus Ibu Prita mencuat ke public. Saya jadi takut untuk ber-ekspresi terutama di blog pribadi saya. Sungguh saya benar-benar takut, takut jika mengalami hal yang sama seperti Ibu Prita yang terjerat UU ITE. Sampai-sampai karena hal ini saya menghapus tulisan saya di blog yang bersifat opini dan sedikit mengkritisi salah satu pelayanan publik di negeri ini. Kasus Ibu Prita betul-betul berdampak trauma bagi saya, mungkin juga para ibu-ibu lainnya.
Hari berganti hari, rasa trauma itu masih melekat,terlebih tayangan televisi terus menerus meng-ekspos kasus Prita Mulyasari. Seolah trauma itu sulit untuk dihilangkan, pengalaman Ibu Prita masuk bui selama 2 minggu terus membayangiku dan akhirnya hari-hari ku pun fakum dari tulis-menulis.
Akhirnya bulanpun berganti bulan, kasus Ibu Prita belum jua selesai. Sementara itu mau tidak mau aku harus mengikuti kasus ini karena hampir di setiap berita kasus ini selalu muncul dan semakin seru. Sampai akhirnya muncullah gerakan koin keadilan bagi Prita. Disinilah pelajaran berharga dapat saya petik, dan rasa traumapun perlahan menghilang menjadi sebuah motivasi baru untuk terus berkarya lewat tulis-menulis.
Pada moment gerakan koin keadilan bagi Prita sungguh membuka mata saya bahwa tidak pantas jika saya ataupun ibu-ibu lainnya trauma akan kasus ini, pasalnya justru dari seorang ibu dengan email-nya keadilan di Indonesia mulai menggeliat. Kalau bukan karena keluhan Ibu Prita yang di tulis lewat email mungkin masyarakat kita masih adem ayem saja dengan ketidak adilan di negeri ini, nah melalui seorang Ibulah hampir seluruh masyarakat Indonesia mulai berani bergerak dan berpartisipasi aktif menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil, dan itu sudah diwujudkan melalui gerakan koin keadilan bagi prita. Dimana gerakan ini bisa di galang juga melalui dunia maya, seperti facebook dan twitter. Maka pantaslah jika kita terus menggunakan fasilitas internet, karena memotivasi kita untuk terus berselancar menyuarakan kebenaran dan ber-ekspresi lainnya di dunia yang satu ini. Sekaligus menunjukkan pentingnya internet bagi kita .
Sementara itu di era globalisasi yang makin menggila ini peran teknologi informasi sangat berpengaruh. Dimana kini hampir semua elemen masyarakat dunia sudah mulai meninggalkan cara-cara manual untuk mengembangkan potensi diri. Bahkan sebagian anak-anakpun sudah tidak mengenal dolanan-dolanan tradisional, karena permainan yang mengasikkan bisa dengan mudah dimainkan melalui hand phone, maupun game on line lainnya. Tentu ini terjadi tak lepas dari perkembangan dunia tekhnologi yang sudah jauh berkembang pesat mendominasi segala akses kehidupan manusia. Nyaris segala kebutuhan manusia bisa dipermudah secara instan dengan adanya teknologi. Internet adalah salah satu akses informasi yang paling digilai manusia saat ini, di mana segala informasi yang menujang potensi diri maupun yang dibutuhkan manusia dapat dengan mudah diakses di sini.
Internet sangat digilai saat ini, hampir seluruh elemen masyarakat menggunakannya, tidak hanya digunakan oleh para politisi, mahasiswa, dan para terdidik lainnya, tapi juga di gunakan oleh para anak-anak dan ibu rumah tangga. Oleh karena itu internet bak makanan pokok yang harus ada dan selalu ada saat manusia merasakan lapar akan kebutuhan informasinya. Bahkan internet sudah menjadi nyawa bagi sebagian penggunanya yakni mereka yang bermata pencaharian/mengelola bisnis melalui internet.
Sebenarnya sangat layak jika berjuta jempol kita acungkan terhadap keberadaan internet. Banyak yang mengakui bahwa keberadaannya sangat membantu manusia, baik membantu dari segi kemudahan meng-akses informasi, menciptakan peluang bisnis baru, maupun kemudahan dalam menjalin tali silaturohim baik melaui face book, twitter, dan juga friendster. Namun apakah itu saja yang perlu kita kritisi dari keberadaan internet? tentu saja tidak, sebab faktanya keberadaan internet juga membawa dampak negative bagi para penggunanya. Situs porno misalnya, bisa dengan mudah diakses oleh siapapun, baik tua, muda, bahkan anak-anak. Tentu hal ini akan menciptakan iklim negatif bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri dan tentu saja ini tidak boleh kita biarkan.
Nah sekali lagi saya adalah seorang wanita, tepatnya adalah seorang istri yang sedang menanti kehadiran generasi-generasi penerus dari rahim saya sendiri. Tentu di sini saya sangat menginginkan anak-anak ataupun generasi penerus yang akhlakul kharimah, berprestasi, berguna bagi keluarga dan lingkungan terutama islam, serta istiqomah di jalan Allah. Nah, disini saya tidak mau perkembangan dunia maya ini mengancam moral dan iman generasi penerus kita yang notabennya adalah generasi penerus umat nabi Muhammad SAW. Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai seorang istri, Ibu, maupun calon ibu lainnya?
Saya sempat miris saat ada sebuah cerita dimana seorang anak dengan asyiknya memainkan laptopnya di dalam kamar, saat di tanya oleh sang ibu sedang apa dia maka iapun menjawab sedang belajar. Karena sang ibu buta akan teknologi maka percaya saja dengan jawaban anaknya, padahal ternyata sang anak sedang membuka situs porno. Nah, satu kisah ini harusnya cukup mewakili kewaspadaan kita terhadap perkembangan orang-orang di sekeliling kita. Sekuat tenaga kita harus mau belajar mengikuti perkembangan tekhnologi, tentu ini banyak tujuan. Selain untuk mengembangkan kualitas kita, kita juga bisa mengontrol lingkungan kita terhadap tekhnologi internet. Kita bisa lebih waspada apa saja yang dilakukan anak-anak kita, suami kita, maupun saudara-saudara kita dengan laptopnya. Paling tidak kita bisa mengingatkan jika salah satu dari orang terdekat kita menyalahgunakan internet. Oleh karena itu kita jangan tertinggal dan ditinggalkan begitu saja oleh tekhnologi, jika itu sampai terjadi maka kita para istri atau ibu akan mudah dibodohi oleh lingkungan yang tidak sehat yakni mereka para penyalah guna internet.
Bagaimanapun sekarang adalah jamannya tekhnologi/internet mau tidak mau kita akan bersinggungan dengan hal ini, maka jangan biarkan moral orang terdekat maupun bangsa kita rusak karena ini, kewajiban kita para istri maupun ibu untuk mendampingi, dan mengarahkan penggunaan internet secara baik. Agar tercipta generasi yang maju, berkualitas, intelek, beriman, dan bertaqwa kepada Allah.
Motivasinya adalah jadilah istri yang kuat di balik suami yang hebat, dan jadilah ibu yang kuat di balik anak yang hebat!
Terakhir ketahuilah bahwa Allah sangat memuliakan keberadaan wanita, itu artinya keberadaan kita kaum wanita di dunia ini sangat penting. Terutama untuk mendidik generasi kita menjadi generasi yang qur’ani dan robbani.
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. ( Qs.An Nisaa’:124)
